27 November 2013

Buah-Buahan Di Surga, Gambaran Kenimatan Tiada Tara

 

Berbicara tentang kenikmatan di Surga, semoga Allah Ta'ala memudahkan kita semua menjadi penghuni Surga, berarti membahas suatu kenikmatan tinggi dan kekal yang tiada taranya. Betapa tidak, Allah Ta'ala menggambarkan kenikmatan tersebut demikian jelas dan terperinci, sehingga menjadikan hamba-hamba-Nya yang beriman selalu bersegera dan berlomba-lomba untuk meraihnya. Allah Ta'ala berfirman:

{وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ}

"Dan bersegeralah (berlomba-lombalah) kamu untuk (meraih) pengampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa" (QS Ali 'Imraan: 133).

Dalam ayat lain, Dia Ta'ala juga berfirman:

{وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ}

"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang-orang (yang beriman) berlomba-lomba (untuk meraihnya)" (QS al-Muthaffifiin: 26).

Oleh karena itu, dalam hadits yang shahih tentang gambaran tingginya kenikmatan Surga, Malaikat Jibril 'alaihissalam yang melihatnya, berkata kepada Allah Ta'ala: "Demi kemahamuliaan-Mu, tidaklah seorangpun yang mendengar tentang (tingginya kenikmatan) Surga kecuali dia ingin masuk ke dalamnya"1.

Cukuplah firman-firman Allah Ta'ala berikut ini menggambarkan sempurnanya kenikmatan di Surga:

{وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نزلا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ}

"Di dalam Surga kamu memperoleh apa (segala kenikmatan) yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa (segala kenikmatan) yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Fushshilat: 31-32).

{يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

"Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan gelas-gelas, dan di dalam Surga itu terdapat segala apa (kenikmatan) yang diinginkan oleh hati dan sedap (dipandang) mata, dan kamu kekal di dalamnya" (QS az-Zukhruf: 71).

Kenikmatan di Surga tiada taranya

Allah Ta'ala berfirman:

{فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

"Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat tinggi di Surga) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan" (QS as- Sajdah: 17).

Imam Ibnu Katsir berkata: "Arti ayat di atas: tidak ada seorangpun yang mengetahui agungnya ganjaran (kebaikan) yang Allah sembunyikan (dan sediakan) bagi mereka (orang-orang yang beriman) di Surga, berupa kenikmatan yang abadi dan berbagai macam kelezatan yang belum pernah disaksikan semisalnya oleh seorangpun"2.

Gambaran tentang tingginya kenikmatan ini dinyatakan dalam hadits qudsi yang shahih, Allah Ta'ala berfirman: "Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shaleh kenikmatan (tinggi di Surga) yang belum pernah dilihat oleh mata, di dengar oleh telinga dan terlintas dalam hati manusia"3.

Artinya: semua kenikmatan dan keindahan di dunia yang pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga atau dibayangkan dalam hati manusia, maka kenikmatan di Surga jauh melebihi semua itu4.

Oleh karena itu, semua kenikmatan dan kesenangan di Surga yang Allah Ta'ala sebutkan dalam ayat-ayat al-Qur-an, seperti istana-istana dari emas dan perak, istri-istri, buah-buahan, sungai-sungai, taman-taman indah, dan berbagai macam kenikmatan lainnya, semua itu meskipun nama-namanya sama dengan yang ada di dunia, akan tetapi hakikat kenikmatannya jauh berbeda, karena kenikmatan di Surga jauh lebih tinggi dan sempurna.

Shahabat yang mulia, 'Abdullah bin 'Abbas Radhiallahu'anhu berkata: "Tidak ada sesuatupun di dunia yang serupa dengan apa yang ada di Surga kecuali namanya (saja)"5.

Buah-buahan di Surga

Allah Ta'ala menjelaskan dalam ayat-ayat al-Qur-an berbagai macam buah-buahan yang lezat sebagai makanan bagi penduduk Surga. Allah Ta'ala berfirman:

{وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ. وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَز وَحُورٌ عِينٌ. كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ. جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

"Dan (di dalam Surga terdapat) buah-buahan dari apa yang mereka pilih. Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan (di dunia)" (QS al-Waaqi'ah: 20-24).

{فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ}

"Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan" (QS ar-Rahmaan: 52).

{فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ}

"Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima" (QS ar-Rahmaan: 68).

Semua itu Allah Ta'ala jadikan mudah untuk mereka jangkau dan nikmati. Allah Ta'ala berfirman:

{وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلا}

"Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan untuk dipetik dengan semudah-mudahnya" (QS al-Insaan: 14).

Dan kenikmatan ini kekal abadi serta tiada habisnya. Allah Ta'ala berfirman:

{وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ لا مَقْطُوعَةٍ وَلا مَمْنُوعَةٍ}

"Dan (di dalam Surga terdapat) buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya" (QS al-Waaqi'ah: 32-33).

Gambaran kenikmatan buah-buahan di Surga

Dalam al-Qur-an, Allah Ta'ala menjelaskan tingginya kenikmatan dan kelezatan buah-buahan di Surga yang dirasakan oleh penghuni Surga. Allah Ta'ala berfirman:

{وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal shaleh, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya" (QS al-Baqarah: 25).

Makna firman Allah Ta'ala dalam ayat ini "Mereka diberi buah-buahan yang serupa…", ada tiga penafsiran dari para ulama Ahli tafsir:

  1. Buahan-buahan di Surga serupa dengan buah-buahan di dunia dalam rupa dan warnanya, tetapi rasanya jelas berbeda (karena buah-buahan di Surga jauh lebih nikmat). Ini ucapan Imam Mujahid, Abul 'Aliyah, adh-Dhahhak, As-Suddy dan Muqatil.

  2. Semua buah-buahan di Surga serupa dalam kelezatan dan keindahannya, tidak ada keburukan padanya. Ini ucapan Imam al-Hasan al-Bashri dan Ibnu Juraij.

  3. Buahan-buahan di Surga serupa dengan buah-buahan di dunia dalam bentuk dan namanya, akan tetapi buah-buahan di Surga lebih indah rupanya dan lebih lezat rasanya. Ini ucapan Imam Qatadah dan Ibnu Zaid6.

Syaikh 'Abdur Rahman as-Sa'di berkata: "Ada yang berpendapat (bahwa maknanya): serupa dalam namanya (tapi) berbeda rasanya. Ada yang berpendapat: serupa dalam warnanya (tapi) berbeda namanya. Ada juga yang berpendapat: (semua buah-buahan di Surga) serupa satu sama lainnya dalam keindahan, kelezatan dan kenikmatannya, mungkin saja pendapat (terakhir) ini yang benar"7.

Penutup

Inilah gambaran sebagian dari kenikmatan dan keindahan Surga yang tiada taranya. Masih banyak kenikmatan dan keindahan Surga lainnya yang tidak mungkin dibahas dalam tulisan ringkas seperti ini.

Semoga Allah Ta'ala, dengan rahmat dan taufik-Nya, memudahkan kita semua untuk selalu meniti jalan menuju Surga-Nya dan dihindarkan dari semua jalan yang menyimpang dari jalan-Nya yang lurus. Sesungguhnya Dia Ta'ala Maha Pemberi petunjuk dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

{تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ}

"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa" (QS Al Qashash:83).

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Catatan Kaki

1 HR Abu Dawud (no. 4744) dan at-Tirmidzi (4/693), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani.

2 Kitab "Tafsir Ibnu Katsir" (3/606).

3 HR Al-Bukhari (no. 3072) dan Muslim (no. 2824).

4 Lihat kitab "Faidhul Qadiir" (4/473).

5 Dikeluarkan oleh Imam Hannad bin as-Sariy dalam "az-Zuhd" (no. 3 dan 8) dan Ibnu Jarir ath-Thabari (1/105), dinyatakan shahih sanadnya oleh penyunting kitab "Taqriibut Tadmuriyyah" (hal. 42).

6 Keterangan Imam Ibnul Jauzi dalam tafsir beliau "Zaadul masiir" (1/53).

7 Kitab "Taisiirul Kariimir Rahmaan" (hal. 46).

Kota Kendari, 28 Syawal 1434 H

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim, Lc. MA.

Sumber : Muslim.or.id

11 September 2013

Kematian Lebih Baik Bagi Orang Mukmin

(Oleh: Ustadz Abu Isma'il Muslim al-Atsari, Hafizhahullâh)
 

Ujian adalah suatu yang pasti menimpa orang Mukmin. Ujian bisa berbentuk perkara yang menyenangkan atau bisa juga berwujud sesuatu yang menyusahkan.

Allâh Ta'âla berfirman :

(QS. al-Anbiyâ'/21: 35)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).
Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."
(QS. al-Anbiyâ'/21: 35)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullâh berkata, "(Kematian) ini akan menimpa semua jiwa makhluk. Sesungguhnya kematian ini merupakan minuman yang yang harus diminum (dirasakan), walaupun seorang manusia itu sudah hidup lama dan diberi umur (panjang) bertahun-tahun (pasti akan merasakan kematian -pen). Tetapi Allâh Ta'âla menciptakan para hamba-Nya di dunia, memberikan kepada mereka perintah dan larangan, menguji mereka dengan kebaikan dan keburukan, dengan kekayaan dan kemiskinan, kemuliaan dan kehinaan, kehidupan dan kematian, sebagai cobaan dari Allâh Ta'âla untuk menguji mereka, siapa di antara mereka yang paling baik perbuataannya. Siapa yang akan tersesat atau selamat di tempat-tempat ujian." (Taisîr Karîmir Rahmân, surat al-Anbiya' ayat ke-35)


KEMATIAN ORANG TERSAYANG

Di antara bentuk ujian yang Allâh Ta'âla berikan kepada para hamba-Nya adalah dengan mewafatkan orang tersayang, baik itu orang tua, suami, istri, anak, saudara, atau lainnya.

Allâh Ta'âla berfirman :

(QS. al-Baqarah/2:155-157)

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,
'Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn'.
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka
dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(QS. al-Baqarah/2:155-157)

Semua itu harus dihadapi dengan kesabaran. Hati menerima, lisan mengucapkan "Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn (Sesungguhnya kita ini milik Allâh Ta'âla dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kita semua akan kembali menghadap pengadilan-Nya), dan anggota badan pun tidak melakukan perbuatan yang dilarang agama, seperti menjerit, menampar pipi, merobek baju dan semacamnya.


DUA PERKARA YANG DIBENCI MANUSIA

Manusia memiliki ilmu yang sangat terbatas, sehingga seringkali penilaiannya terhadap sesuatu itu itu tidak sesuai dengan kenyaatan. Manusia terkadang menyukai suatu perkara, padahal perkara itu akan berpotensi untuk mencelakakannya. Demikian juga terkadang membenci suatu perkara, padahal sesuatu yang dibencinya itu baik dan bermanfaat baginya.

Allâh Ta'âla berfirman :

(QS. al-Baqarah/2: 216)

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allâh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. al-Baqarah/2: 216)

Oleh karena itu, ketika seseorang ditimpa ujian kematian orang yang dicintai, dia harus husnuzhan (berprasangka baik) kepada Allâh Ta'âla dan berusaha menghadapi musibah ini dengan penuh kesabaran. Diantara cara meraih kesabaran ketika ditinggal mati oleh orang yang dicintai, dan orang yang mati tersebut insya Allâh adalah seorang Mukmin, adalah dengan meyakini bahwa kematiannya adalah merupakan kebaikan bagi dia sebagai seorang Mukmin.

Sesungguhnya ada dua perkara yang dibenci oleh manusia, padahal dua perkara tersebut baik bagi seorang Mukmin.

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّم قَالَ:
اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ الْمَوْتُ وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ
وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقُلُّ لِلْحِسَابِ

Dari Mahmud bin Labid bahwa Nabi shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Dua perkara yang dibenci anak Adam, (pertama) kematian,
padahal kematian itu lebih baik bagi seorang Mukmin daripada fitnah (kesesatan di dalam agama).
(Kedua) dia membenci sedikit harta, padahal sedikit harta itu
lebih menyedikitkan hisab (perhitungan amal).
(HR. Ahmad, dan lain-lain, dishahihkan oleh al-Albâni di dalam ash-Shahîhah, no. 813)

Hal ini juga sangat difahami oleh sebagian sahabat, oleh karena itu Abdullah bin Mas'ud radhiyallâhu 'anhu berkata:

،يَا حَبَّذَا الْمَكْرُوهَانِ: الْمَوْتُ وَالْفَقْرُ
،وَأَيْمُ اللَّهِ أَلا إِنَّ الْغِنَى وَالْفَقْرَ وَمَا أُبَالِي بِأَيِّهِمَا ابْتُلِيتُ
إِنْ كَانَ الْغِنَى إِنَّ فِيهِ لَلْعَطْفِ، وَإِنْ كَانَ الْفَقْرُ إِنَّ فِيهِ لِلصَّبْرِ

"Alangkah bagusnya dua perkara yang dibenci (yaitu) kematian dan kefakiran.
Demi Allâh, ketahuilah sesungguhnya kekayaan atau kemiskinan,
aku tidak peduli dengan yang mana dari keduanya aku diuji.
Jika aku diuji dengan kekayaan, maka sesungguhnya di dalam kekayaan itu untuk menolong.
Jika aku diuji dengan kefakiran, maka sesungguhnya di dalam kefakiran itu untuk kesabaran."
(HR. Thabarani; Ahmad di dalam Az-Zuhd; dll)

Abdullah bin Mas'ud radhiyallâhu 'anhu juga berkata :

"Demi Allâh Ta'âla Yang tidak ada ilah yang haq kecuali Dia. Tidak ada satu jiwapun yang mati kecuali kematian lebih baik darinya. Jika dia seorang yang berbakti, maka sesungguhnya Allâh Ta'âla berfirman, (yang artinya) 'Dan apa yang di sisi Allâh adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.' (QS. Ali 'Imran/198). Jika dia seorang yang fajir (jahat), maka sesungguhnya Allâh Ta'âla berfirman (yang artinya), 'Janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka' (QS. Ali 'Imran/178)" 
(Riwayat Thabaroni, dll)

Ayat yang mulia ini (QS. Ali 'Imran/178) menunjukkan adanya problem dan syubhat yang merasuki sebagian hati manusia, yaitu musuh-musuh kebenaran tidak mendapatkan siksa di dunia, diberi kesenangan secara lahiriyah dengan kekuatan, kekuasaan, harta benda, dan kedudukan! Yang hal ini menimbulkan kesesatan di hati mereka dan orang-orang yang berada di sekitar mereka. Ini juga membuat orang-orang yang imannya lemah berburuk sangka kepada Allâh Ta'âla, prasangka yang tidak benar, prasangka jahiliyah, yaitu menyangka Allâh Ta'âla meridhai kebatilan dan keburukan. Mereka mengatakan bahwa jika Allâh Ta'âla tidak meridhainya, tentu Allâh Ta'âla tidak akan membiarkannya membesar dan berkuasa.

Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya ketika Allâh Ta'âla tidak segera menyiksa mereka, ketika Allâh memberikan berbagai kesenangan di dunia, itu semua hanyalah tipu daya terhadap mereka, karena Allâh tidak menghendaki kebaikan bagi mereka.


KEMATIAN, ISTIRAHAT BAGI SEORANG MUKMIN

Dunia adalah ibarat penjara bagi seorang Mukmin. Ini artinya, jika seorang Mukmin meninggal dunia berarti dia terbebas dari penjara tersebut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu 'anhu, dia berkata:
Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Dunia itu penjara seorang mukmin dan sorga orang kafir".
(HR. Muslim, no. 2956)

Imam Nawawi rahimahullâh menjelaskan hadits ini dengan perkataan, "Maknanya bahwa semua orang Mukmin di dunia ini dipenjara atau dilarang dari syahwat-syahwat (perkara-perkara yang disukai) yang diharamkan dan dimakruhkan, dibebani dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan yang berat. Maka jika dia telah meninggal dunia, dia istirahat dari ini, dan dia kembali menuju perkara yang telah dijanjikan oleh Allâh Ta'âla untuknya, berupa kenikmatan abadi dan istirahat yang bebas dari kekurangan. Sedangkan orang kafir, maka dia mendapatkan kenikmatan di dunia, dengan sedikitnya kenikmatan itu dan disusahkan dengan perkara-perkara yang menyusahkan. Jika dia mati, dia menuju siksaan abadi dan kecelakaan yang kekal". (Syarh Nawawi pada Shahih Muslim, no. 2956)

Kematian seorang Mumin merupakan istirahat baginya, sebagaimana dinyatakan oleh imam Nawawi rahimahullâh di atas, dijelaskan oleh Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam di dalam haditsnya sebagai berikut :

وعَنِ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّم مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ : مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ: الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

Dari Abu Qatadah bin Rib'i al-Anshâri, dia menceritakan bahwa
ada jenazah yang (dipikul) melewati Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam,
maka beliau bersabda,
"Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya".
Mereka (para sahabat) bertanya,
"Wahai Rasûlullâh, apakah (maksud) orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?"
Beliau menjawab,
"Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allâh.
Sedangkan hamba yang fajir (jahat),
maka banyak manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat darinya".
(HR. al-Bukhâri, no. 6512 dan Muslim, no. 950)

Ibnut Tien rahimahullâh berkata, "(Yang dimaksudkan seorang Mukmin dalam hadits di atas) kemungkinan adalah khusus orang yang bertakwa, atau semua orang Mukmin. Adapun yang dimaksudkan seorang fajir (jahat) di dalam hadits di atas kemungkinan adalah orang yang kafir, atau termasuk orang yang bermaksiat."

Ad-Dawudi rahimahullâh berkata, "Adapun istirahatnya manusia adalah karena kemungkaran yang dilakukan oleh orang fajir itu, jika manusia mengingkarinya, dia mengganggu mereka; namun jika mereka membiarkannya, maka mereka berdosa. Adapun istirahatnya kota (bilad) karena kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan oleh orang fajir itu (telah sirna -red). Karena hal itu menyebabkan tidak turun hujan, yang berakibat kebinasaan pertanian dan peternakan".

Tetapi al-Baji rahimahullâh mengkritik bagian awal dari perkataan ad-Dawudi, yaitu bahwa orang yang mendapatkan gangguannya, maka dia tidak berdosa dengan tidak mengingkarinya, jika dia telah mengingkari dengan hatinya. Atau dia mengingkari kemungkarannya dengan cara yang bisa menghindarkan dirinya dari gangguan si pelaku kejahatan. Dan kemungkinan yang dimaksudkan dengan "istirahatnya manusia darinya" adalah karena kezhalimannya yang menimpa manusia (telah terhenti). Sedangkan "istirahatnya bumi darinya" karena perbuatannya yang merampas bumi, menghalanginya dari hak bumi, dan dia mempergunakan bumi untuk perkara yang tidak selayaknya. Sedangkan "istirahatnya binatang" karena perkara yang seharusnya tidak boleh dilakukan, yaitu (seperti) melelahkannya. Wallahu a'lam." (Fathul Bari, no, hadits 6512).

Sedikit penjelasan ini semoga bisa menghibur orang yang tertimpa musibah kehilangan orang yang dicintainya. Wallâhul Musta'an.

(Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVI)

Sumber : Majalah As-Sunnah