23 Juli 2009

FW: [daarut-tauhiid] Fwd: JUJUR ITU INDAH

----- Original Message -----
From: "Mailinglist Al-Sofwah" <
ustadz@alsofwah.or.id>

JUJUR ITU INDAH
Senin, 06 Juli 09

"Pokoknya kita mesti cerai hari ini," tukas sang istri kepada suaminya.
"Kembalikan uang saya, saya tidak rela dengan barang cacat seperti ini,"
sahut pembeli kepada penjual. "Tok..tok..tok.." suara palu diketuk, hakim
memutuskan bahwa si fulan bin fulan tersang ka kasus pendinginan uang. dan
masih seabreg kasus lainnya, terjadi di negri kita ini, disebabkan karena
ketidakjujuran dalam mengemban amanah, bagaimanakah Islam menilai
kejujuran..!

Sejatinya seorang muslim adalah pengemban risalah dalam kehidupan,
olehkarenanya hendak-lah bermuamalah dengan akhlaq yang mulia nan tinggi,
dengannya niscaya jelaslah kemuliaan seorang muslim dari yang lainnya.

Di antara akhlaq mulia yang semestinya menghiasi seorang muslim, namun kerap
ditinggalkan, padahal dengannyalah seseorang merasakan hakikat cinta, dengan
nya pula terbangun persahabatan yang sejati nan diridhoi.

Akhlaq itu adalah jujur dalam berkata dan beramal, karenanya seorang muslim
akan merasa tentram, dan menghantarkankan kepada kehidupan harmonis yang
berakhir di jannatullah.

Namun begitulah manusia, terkadang amalnya tidak sejalan dengan fitrah yang
salimah (lurus), pemandangan ironi pun kerap terjadi, ya!.. tanggal 01 April
dunia mengenalnya dengan [April Fools Day] yang di Indonesia akrab dikenal
dengan April Mop [hari penghalalan ber bohong] innalillahi wainna ilaihi
rajiun! inilah pembatalan syari'at yang sejalan dengan fitrah, sungguh agama
Islam yang hanif ini memerintahkan hambanya untuk jujur, dan meninggalkan
bohong.

Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah
kepada Allah dan bersamalah kamu bersama orang yang benar [jujur]" (QS.
at-Taubah:119), dalam ayat yang lain, "Agar Allah memberikan balasan kepada
yang jujur karena kejujurannya dan mengazab orang munafiq jika ia
menghendakinya." (QS. al-ahzab: 24)

Syaikh al-utsaimin rahimahullah berkata, "Itu semua menunjukkan bahwasanya
kejujuran adalah perkara yang mulia dan akan mendapat balasan dari Allah,
oleh karenanya wajiblah bagi kita untuk jujur, terbuka dan tidak
menyembunyikan sesuatu karena basa-basi atau berdebat"

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah kalian
berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran menghantarkan kepada
kebaikan,dan sesungguhnya kebaikan menghantarkan kepada surga, dan apabila
seseorang senantiasa berlaku jujur niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta'ala
sebagai seorang yang jujur, dan janganlah kalian berdusta karena
sesungguhnya dusta menghantarkan kepada kejelekan, dan sesungguhnya
kejelekan menghantarkan kepeda neraka, dan apabila seseorang senantiasa
berlaku dusta niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta'ala sebagai seorang
pendusta." (Muttafaqun 'alaih).

Lantas apakah hakekat kejujuran..? Syaikh al-utsaimin Ta'ala berkata, "Jujur
adalah, selarasnya khabar dengan realita, baik berupa perkataan atau
perbuatan."

Oleh karenanya kita katakan, apabila khabar (perkataan) selaras dengan
kenyataan maka itulah kejujuran dengan llisan, dan apabila perbuatan badan
selaras dengan hati maka itulah kejujuran dengan perbuatan.

Maka, orang yang berbuat riya', bukanlah orang yang jujur, karena dia
menampakkan ketaatan tapi hatinya tidak demikian.

Begitu juga orang munafiq, menampakkan keimanan dan menyembunyikan
kekufuran.

Demikian orang musyrik, menampakkan ketauhidan dan menyembunyikan
peribadatan kepada selain Allah.

Tak jauh beda dengan ahli bid'ah, menampakkan keta'atan dan pengikutan
kepada rasul akan tetapi dia menyelisihinya.

Maka, dari pemaparan di atas jelaslah akan kewajiban berlaku jujur dalam
berbagai segi kehidupan, baik dalam konteks sebagai hamba yang berhubungan
dengan sang Khaliq, ataupun dalam konteks sebagaimana layaknya manusia
dengan sesamanya, seperti jujur dalam memegang amanah kepemimpinan, dalam
jual beli, berumah tangga,ber patner dalam bekerja, baik di instansi
pemerintahan ataupun swasta, dll. Sehingga tertutuplah pintu kecurangan,
penipuan, kecemburuan, prasangka buruk, bahkan KKN sekalipun.

Bahkan lebih dari itu, dalam canda dan tawapun kita dituntut untuk jujur,
karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Celakalah bagi
orang yang berbicara kemudian berdusta agar manusia tertawa dengannya, maka
celakalah kemudian celakalah." (HR. Ahmad, dihasankan oleh al-Albani.), oleh
karena itu kita harus berhati-hati.

Adapun buah dari kejujuran adalah, berikut ini;

Bahwasanya ia menghantarkan kepada kebaikan yang bertepi di surga Allah
Ta'ala, mendapat pujian dari Rabb semesta alam, selamat dari sifat munafiq
yang selalu berdusta apabila bicara, mendapatkan kepercayaan dari sesamanya,
terbentuknya kehidupan yang tentram dan selamat yang tiada penyesalan, Oleh
karenanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tinggalkanlah
yang membuatmu ragu kepada yang tidak ragu. Sesungguhnya jujur itu
ketenangan, dan bohong itu keragu-raguan" (HR. at-tirmizi)

Jujur dalam niat dan lisan akan menghantarkan seseorang ke derajat yang
tinggi, yaitu derajat syuhada. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda, "Barang siapa meminta kepada Allah mati syahid dengan penuh
kejujuran, niscaya Allah menghantarkannya ke derajat syuhada, walaupun dia
mati di atas kasurnya." (HR. Muslim). Dan faidah lainnya yang tak terhitung.

Berikut ini salah satu contoh yang nyata tentang buah dari kejujuran; kita
dapati dalam kitab tarikh, bahwasanya suatu hari sebagaimana biasanya Umar
-Amirul Mu'minin- berjalan di malam hari mengontrol keadaan rakyatnya,
hingga sampailah dia di dekat suatu rumah, tanpa disengaja beliau mendengar
percakapan antara seorang ibu -penjual susu- dengan anak gadisnya,
"Tuangkanlah air ke dalam susu ini," tukas ibu kepada anak gadisnya. Maka
sang gadis pun menjawab dengan penuh tatakrama, "Wahai ibu! bukankah Amirul
Mu'minin melarang kita dari perbuatan ini?" Sang ibu pun lantas berkilah,
"Bukankah tidak ada seorang pun yang mengetahui perbuatan ini? Apalagi
Amirul Mu'minin!" Sang gadis pun berusaha meyakinkan sang ibu, "Wahai ibu!,
kalaulah seandainya Amirul Mu'minin tidak mengetahui, bukankah Rabbnya
Amirul mukminin mengetahui." Lantas sang ibu pun terdiam. Maka Umar kaget
dan bahagia, lantas ia bergegas menuju rumahnya dan menawarkan anaknya untuk
menikahi gadis tersebut. Maka dinikahilah anak tersebut oleh 'Ashim bin umar
dan terlahirlah dari pasangan ini seorang anak perempuan yang kelak dinikahi
oleh Abdul Malik bin Marwan, dan terlahirlah dari pasangan ini seorang alim
yang disebut-sebut sebagai khalifah yang kelima sebagai buah dari kejujuran,
dialah Amirul Mu'minin Umar bin Abdul aziz, khalifah yang alim, bertaqwa,
zuhud dan adil.

Oleh : Ihsan Jawadi
Sumber: Disarikan dari berbagai sumber.

17 Juli 2009

Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang

Rabu, 15 Juli 2009 | 03:32 WIB

Oleh Sonya Hellen Sinombor

Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung
tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter
di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien
tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak
pernah dimintai bayaran.

Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga
Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar,
Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang
75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para
pasien.

Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien
yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan
Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah
keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar
ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak
sanggup.

Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan "biasa saja". Dia merasa
dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya
bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak
membayar, ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya
pemeriksaan dan resep obatnya.

Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, "Memangnya
kamu sudah punya uang banyak?"

Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita,
dia juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. "Saya pernah
ngasih uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima," ucapnya.

Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan,
para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga
tak pernah diminta bayaran. "Kami hanya bisa bilang terima kasih
dokter, lalu ke luar ruang periksa," katanya.

Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar
tagihan dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini
tak terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya
uang untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat
segera, padahal si pasien tak membawa cukup uang.

Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan
resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya
menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien
atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo,
petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.

Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat
tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? "Bervariasi, dari ratusan
ribu sampai Rp 10 juta per bulan."

Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu
dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat
dari dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu
membebankan biaya perawatan kepada Lo.

Kerusuhan 1998

Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak
mampu, relatif "populer". Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini
justru tak suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan
wawancara dari media.

"Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa," ujarnya.

Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang
tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. "Apa yang saya lakukan
itu biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa,"
ujarnya.

Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo
dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang
membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada
Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh
masyarakat setempat.

Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia
tidak membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya
rawan, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak
permintaan itu, dia tetap menerima pasien yang datang.

"Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya
kritis. Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan
tetap buka praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau
berobat," cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan,
yang rumahnya tak jauh dari rumah Lo.

Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke
tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian
berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.

"Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?"
ucapnya.

Anugerah

Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian
bercerita, seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen,
seniornya, dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan
sang ayah kini telah tiada.

Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah
kedokteran. "Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi
dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter.
Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya
harus terbuka. Saya tidak pasang tarif," kata Lo yang namanya masuk
dalam buku Kitab Solo itu.

Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang.
Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu
karena harus memenuhi peraturan pemerintah.

Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar
15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai
panutan. "Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan
sehari-harinya sederhana," ujarnya.

Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul
saat kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. "Ini bukan berarti saya
tak menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama
yang tidak bisa dibayar dengan uang," katanya sambil bercerita,
sebagian pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.

Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa
lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi,
dia dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang
dinikahinya tahun 1968, tak memiliki anak.

"Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa
banyak sih makannya?" ujar Lo.

Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah "cuti" praktik. Lies
(55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan
tahun menjadi pasiennya mengatakan, "Dokter Lo praktik pagi dan malam.
Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu
ada kapan pun kami memerlukan."

DATA DIRI

* Nama: Lo Siaw Ging * Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934 * Istri: Maria
Gan May Kwee (62) * Pendidikan: - Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga, 1962 - S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995 * Profesi: -
Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen,
Solo) - Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo


Dikutip:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/15/03321720/dokter.lo.siaw.ging
.tak.sudi.berdagang